Photo by Lucas George Wendt on Unsplash
Pernah nggak, kamu membayangkan kalau alat tulismu bisa bicara? Mungkin mereka akan banyak bercerita — tentang pagi-pagi yang sibuk, tentang coretan terburu-buru saat rapat, atau tentang malam sunyi ketika kamu menulis sesuatu yang nggak pernah kamu kirimkan ke siapa-siapa. Pulpen mungkin akan bilang, “Aku capek juga sih, tapi aku senang setiap kali kamu pakai aku buat nulis ide-ide gila itu.”
Pensil akan tersenyum malu, “Aku tahu aku sering diraut sampai pendek, tapi setiap goresanku selalu jujur.” Sementara penghapus, ah… dia mungkin cuma tertawa kecil, karena tugasnya memang menghapus jejak, tapi diam-diam dia hafal semua kesalahan yang kamu buat.
Notebook yang tebal mungkin akan sedikit sombong, karena di dalam dirinya tersimpan begitu banyak cerita — beberapa selesai, beberapa hanya separuh jalan. Ada halaman yang penuh semangat, ada juga yang kosong karena kamu kehilangan arah.Tapi ia tetap di sana, menunggu kamu menuliskan lagi sesuatu, apapun itu.
Lucunya, kalau alat tulis benar-benar bisa bicara, mungkin mereka akan menegur kita juga. “Kenapa lama nggak dipakai?” kata pulpen dari sudut meja. “Atau, kenapa buru-buru membuangku?” bisik pensil yang patah. Dan mungkin, mereka cuma ingin diingat, sekadar disentuh, sekadar diajak berbagi sedikit waktu di sela hari-hari digital kita yang terlalu sibuk menatap layar.
Kadang kita lupa, alat tulis bukan cuma benda. Mereka saksi kecil dari banyak momen.. tumpahan emosi, ide mendadak, bahkan curhatan tanpa tujuan. Mereka diam, tapi mereka hadir. Dan kalau suatu hari nanti kamu membuka laci dan menemukan pulpen lama, mungkin dia akan tersenyum karena akhirnya kamu datang lagi.
